banner ad

Kiblat dan Propaganda Yahudi

| 30 Maret 2012 | 0 Comments
  • Sharebar

ilustrasi-inet

“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (Al-Baqarah: 142)

 Ayat ini merupakan rangkaian dari ayat-ayat sesudahnya (Al-Baqarah 142 – 152) yang mengisahkan prosesi peralihan dan pemindahan kiblat kaum Muslimin. Pemindahan kiblat sontak membuat orang Yahudi dan munafik yang disebut Allah sebagai orang-orang yang bodoh mencari-cari celah memojokkan umat Islam. Di waktu Nabi Muhammad Sallallu Alaihi wa Sallam berada di Mekah di tengah-tengah kaum musyirikin beliau berkiblat ke Baitul Maqdis. Tetapi setelah 16 atau 17 bulan Nabi berada di Madinah ditengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Muhammad menghadap ke kiblat mereka namun menyelisihi agama mereka. Bahkan orang Yahudi menyatakan Rasulullah tidak tahu apa-apa sampai diberi petunjuk kepada kiblat yang benar yaitu Baitul Maqdis.  Hal itu membuat Rasulullah resah. Selama tinggal di Madinah, Nabi Muhammad Sallallu Alaihi wa Sallam sering melihat ke langit seraya berdo’a dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah. Kemudian turunlah ayat-ayat tersebut. Pada saat turun perintah menghadapkan kiblat ke Ka’bah Rasulullah sedang shalat asar.

Sekilas mungkin masalah pengalihan kiblat dan kisah prosesinya di masa Rasulullah hanya kisah sederhana. Sebagian menganggapnya tidak terkait dengan esensi ajaran Islam. Namun jika ditelaah secara mendalam, kisah itu sarat nilai dan pelajaran penting. Disamping itu juga menyinggung urgensi kiblat, hakikatnya, komitmen umat, watak orang Yahudi dan munafik serta strategi perang pendangkalan akidah terhadap umat Islam.

Disamping merupakan jawaban mematikan atas desas-desus yang disebar oleh kaum Yahudi dan munafikin tentang pengalihan kiblat ini, pengalihan kiblat ini juga sebagai bukti kecintaan Allah kepada nabi-Nya yang sangat berharap agar dialihkan ke kiblat Ibrahim. Karena Rasulullah saw bersama sahabatnya dan dakwahnya di Madinah mendapatkan sambutan hangat di kalangan Anshar, hal ini membuat iri musuh-musuh kaum Muslimin. Apapun kejadian dan tindakan Rasulullah menjadi isu yang layak disebar untuk memojokkan sosok sang nabi dan agama yang dibawanya. Kalau perlu dibumbui dengan dusta-dusta, seperti yang dilakukan Yahudi, koalisi abadi kaum munafikin.

Sikap Yahudi ini didorong rasa iri dan kebencian karena ternyata nabi yang diutus bukan dari silsilah Bani Israil, tapi berasal dari silsilah Bani Ismail. Watak kebencian dan makar yang diwarisi secara turun-temurun oleh Yahudi bahkan hingga sekarang dan sampai akhir jaman nanti. Di sisi lain, propaganda ini juga merupakan perang pendangkalan akidah umat. Lahirnya kaum munafik sejak di jaman Rasulullah dan sepanjang sejarah umat adalah kader-kader kaum Yahudi. Abdullah bin Ubay Salul merupakan kader mereka yang menyusup bertugas menjadi intel, mencari kelemahan umat Islam, sekaligus menyebarkan pemikiran yang merusak di kalangan umat. Terpecahnya barisan umat Islam di Uhud sehingga sekitar 300 kaum muslimin mundur dari perang adalah hasil propaganda Ubay bin Salul.

Kiblat dan pengalihan kiblat hanya ujian keimanan kaum Muslimin.

dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.” (Al-Baqarah: 142).

Karenanya di ayat selanjutnya Allah menegaskan,

“kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)

Propaganda pendangkalan akidah di jaman sekarang dari film, sinetron, hingga dunia akademisi hanya modifikasi aksi mereka di jaman dulu. Tujuannya sama; menusuk langsung ajaran Islam dan pribadi Rasulullah melalui jalan belakang; alias berbaju Islam.

Mukmin hakiki menyadari prinsip-prinsip ajaran Islam tidak mudah goyah dengan pendangkalan akidah ini. Sebagaimana ketika ayat pengharaman khamar turun (Al-Maidah: 90) tanpa tawar menawar mereka langsung mengatakan “Kami berhenti, kami berhenti,” ini karena mereka memiliki keimanan dan pemahaman kuat dalam diri mereka. Selain itu karena mereka memiliki visi yang jelas (wijhah).

“dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). (Al-Baqarah: 148).

Sehingga energi mereka dioptimalkan untuk berlomba-lomba dan mengasah diri sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain dalam kebaikan.

Pengalihan kiblat shalat juga penyempurnaan dari pengalihan kenabian dari silsilah Bani Israil kepada bani Ismail. Hal ini untuk membedakan umat Islam dengan umat lain. Inilah yang dirasakan Rasulullah secara psikis dan emosi. Bagaimana risalahnya Islam namun berkiblat kepada kiblat Yahudi. Secara emosional tidak bisa diterima. Allah pun mendengarkan intuisi ini. Sayyid Qutb mengatakan, “perbedaan tempat kiblat shalat dan ibadah untuk memberikan kekhususan prinsip, manhaj, dan orientasi. Sehingga lahir dalam diri umat perasaan izzah.”

Karenanya banyak aturan-aturan dalam Islam yang isinya melarang umat Islam berprilaku dan latah terhadap umat agama lain. Rasulullah saw bersabda, “Jangan kalin berdiri seperti halnya orang-orang ajam berdiri untuk menghormati satu sama lainnya,” (HR. Thabrani). Ini disampaikan ketika para sahabatnya berdiri pada saat Rasulullah datang. Di hadits lain beliau bersabda, “Jangan kalian memuji aku sebagaimana orang Nashrani memuji Isa anak Maryam. Saya hanya seorang hamba. Maka katakan saya ini “Hamba Allah dan Rasul-Nya,” (HR. Tirmidzi).

Selain itu rasa izzah terhadap Islam lahir karena dorongan dan keyakinan dan keterikatan perasaan terhadap agama suci itu sendiri. Sebagaimana Rasulullah tidak ingin kalah secara psikis maka umat Islam juga harus memiliki izzah karena keimanan mereka. “janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139). Jika seseorang Muslim sudah kalah secara psikis, maka gaya pikiran dan prilakunya selalu membanggakan orang lain.

Mengenai ka’bah sebagai kiblat kaum muslimin, Imam Hasan Al-Banna mengatakan, “Sebagian orang bodoh dan sempit pandangannya mengatakan, ka’bah dan batu ini hanya warisan paganisme yang kemudian diakui Islam. Kita jawab bahwa, “Islam justru datang menghancurkan paganisme, apapun bentuknya. Setiap ibadah haji hanyalah merupakan penetapan keesaan Allah, menundukkan wajah dan hati kepada Allah semata. Perumpamaan ka’bah hanya seperti bendera sebuah negara sebagai simbol kejayaan dan kemuliaan dan slogan mereka. Perasaan bergetar jika dekat dengannya bukan karena fisiknya, namun karena makna dan pesan dari bendera itu sendiri. Allah menginginkan agar ka’bah menjadi bendera dan pusat poros dunia yang mencerminkan persatuan dan kesatuan serta persaudaraan umat Islam. Ibrahim memilihnya sebagai kiblat karena ia dihormati oleh seluruh agama samawi. “dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 127-128). Ibrahim juga yang menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya, jadi tidak mungkin sebagai warisan paganisme. (Jaridah Ikhwanul Muslimin, edisi 147, th 1, 1946). Wallahu a’lam (by; Ahmad Tarmudli)

Tags:

Category: Tafsir

About the Author ()

Leave a Reply