banner ad

Tawakal Yang Sesungguhnya, Belajar dari Filosofi Burung

| 5 April 2012 | 0 Comments
  • Sharebar

ilustrasi-inet

Untuk menggambarkan sikap tawakal yang ideal dan sesungguhnya, dalam sebuah hadits Rasulullah memberikan analogi burung dalam menjalani siklus hidupnya.

Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)

Seperti apa sebenarnya yang diisyaratkan dalam hadits itu? Tawakal merupakan gabungan berbagai unsur keyakinan dan penyikapan yang menjadi satu. Ia belum bisa disebut tawakal sesungguhnya bila tidak terdapat unsur-unsur tersebut. Orang yang bertawakal harus makrifat Allah dengan segala sifat-sifat-Nya. Makrifat tentang kekuasaan-Nya keagungan-Nya, keluasan ilmu-Nya, keluasan kekayaan-Nya. Makrifat segala urusan akan kembali pada-Nya, dan segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya, dan seterusnya.

Orang yang bertawakal harus memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha. Siapa yang menafikan keharusan adanya usaha, maka tawakalnya tidak benar sama sekali. (lihat; Antara Tawakal dan Berusaha)

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ada seseorang berkata kepada Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?” Rasulullah SAW menjawab, “Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Orang yang bertawakal juga harus memiliki ketetapan hati dalam mentauhidkan (mengesakan) Dzat yang dijadikan gantungan, yaitu Allah Sallallu Alaihi wa Sallam. Karena tawakal memang harus disertai dengan keyakinan akan ketauhidan Allah dan jauh dari ikatan kesyirikan-kesyirikan.

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,” (Al-Isra’: 2)

Tawakal juga harus ada unsur menyandarkan hati sepenuhnya hanya kepada Allah Sallallu Alaihi wa Sallam dan menciptakan suasana hati yang tenang ketika mengingat kepada-Nya. Tawakal juga harus dibarengi dengan husnudzan (berbaik sangka) terhadap Allah Ta’la. Karena tidak mungkin seseorang bertawakal terhadap sesuatu yang dia bersu’udzan kepada-Nya. Tawakal yang sesungguhnya hanya akan terbukti bila seseorang totalitas prasangka baiknya kepada Allah.

Tawakal yang sebenarnya juga harus diikuti dengan memasrahkan jiwa sepenuhya hanya kepada Allah Ta’la. Menyerahkan segala masalah, mewakilkan, mengharapkan, dan memasrahkan segala sesuatu hanya kepada Allah. “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (Ghafir: 44)

Tawakal Masih Perlu Dibutuhkan Doa

Meski – sekali lagi – tawakal adalah pekerjaan hati, namun ia perlu dikuatkan dalam pernyataan lisan berupa doa. Doa di sini berfungsi sebagai penegasan, tekad, kesaksian dari keyakinan di dalam hati. Karena itu Rasulullah mengajar doa sebelum tidur sebagai berikut.  

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِى إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

“Allahumma aslamtu wajhi ilaika, wa alja’tu dlahri ilaika, wa fawwadltu amri ilaika, ragbatan wa rahbatan ilaika, laa maljaa wala manja minka illa ilaika, aamantu bikitabikalladzi anzalta wanabiyyaka ladzi arsalta”

Rasulullah bersabda, “Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka ucapkannya “Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, aku perlindungkan punggungku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu karena berharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat selamat dari-Mu kecuali kembali kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada nabi-Mu yang Engkau utus.” Jika engkau meninggal di malam itu, maka engkau mati dalam keadaan fitrah. Dan jika engkau masuk di waktu subuh, maka engkau akan mendapatkan kebaikan yang banyak.” (HR. Bukhari) (bagian terakhir) (Ahmad Tarmudli)

Artiket terkait:

Tags:

Category: KOLOM

About the Author ()

Leave a Reply