banner ad

Wanita, Antara Tonggak Moral dan Sumber Fitnah

| 13 Juni 2012 | 0 Comments
  • Sharebar

ilustrasi-inet

(spiritislam.net) – Ketika melihat sebuah bangunan megah, kebanyakan orang mengaguminya sebatas pada keindahan fisiknya tidak lebih. Mereka jarang sekali berfikir, otak di balik keindahan itu adalah arsiteknya. Merekalah yang merancang setiap lekuk bangunan itu.

Keindahan apapun, baik fisik atau non fisik ditentukan oleh sejauh mana keahlian arsiteknya. Sebagaimana sebuah bangunan fisik, kemajuan sebuah negara dan umat banyak ditentukan arsitek dari sumber daya manusia yang berkualitas di bidangnya.

Berbicara tentang peran wanita dalam peradaban, kebanyakan orang sering melupakannya. Padahal bila menilik sejarah mereka juga arsitek yang turut serta dalam kemajuan suatu bangsa. Terutama perannya sebagai arsitek dalam mencetak SDM yang berkepribadian utuh. Karena itu wanita di tuntut berkiprah dalam membangun bangsa, tidak terbatas hanya “ikut berpartisipasi”, melainkan lebih mengarah ke “peran aktif” pada setiap tahapan penyelenggaraan, yaitu pengaturan, pembinaan, pelaksanaan hingga pengawasan. Wanita diposisikan sebagai arsitek yang mampu mendesain kontruksi sebuah peradaban bangsa, karena dari rahim wanita terlahir penerus masa depan bangsa.

Anak-anak ibarat salah satu karya arsitektur, ketika seorang anak dirancang oleh arsitek, maka karya arsitektur tersebut akan membentuk karakter bangsa. Seperti ditegaskan Anthony Smith, that symbols “have always possessed the emotive collective qualities” that can band a nation together, and architecture is one of the grandest examples of such a symbol. Sadar atau tidak sadar, arsitektur merupakan  identitas bangsa.

Karya arsitektur mencerminkan juga kepribadian dan perilaku para arsiteknya. Sama halnya dalam membentuk generasi yang baik, jika sang arsitek memiliki akhlak dan perilaku yang baik, maka kelak anak-anak tersebut akan menjadi karya arsitektur yang indah. Mereka akan mempunyai andil yang sangat besar dalam membangun bangsa jika memiliki akhlak yang baik.

“Muliakanlah anak-anak kalian dan baguskanlah adab mereka, karena anak-anak kalian itu adalah hadiah bagi kalian.”  (HR. Ibnu Majah)

Tidak ada pemberian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pendidikan adab (akhlak) yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Kesadaran tentang pentingnya seorang wanita dalam membangun bangsa yang beradab, membuat peran intelektual dan  kerja  pemikiran mereka akan terpola  dalam  kerangka  sebagai  arsitek  peradaban. Perannya sebagai subjek pembangun peradaban dapat teraktualisasi apabila mereka memiliki kerangka pemikiran yang kreatif, inovatif dan kompetitif dalam merancang. Targetnya, membentuk setiap anak menjadi manusia secara holistic, memiliki kesadaran individu bahwa ia bagian dari anggota keluarga, sekolah, lingkungan, masyarakat dan komunitas global.

Al-Quran banyak membahas peran wanita dalam kehidupan, baik sebagai individu, istri, ibu dan hubungannya dengan masyarakat. Wanita merupakan salah satu faktor penentu dalam pemberian arah budaya masyarakat –hubungan causative effect-. Dalam sejarah Islam, Khadijah Al-Kubra adalah salah satu sosok teladan yang patut di contoh.

Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaq ‘Alaih).

Khadijah merupakan wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Figur wanita muslimah dengan peran strategisnya sebagai ibu rumah tangga yang amanah, ia merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Kita bisa mengambil ibrah dari kesuksesan beliau dalam mendidik anak. Tetapi peran sebagai pendidik tidak mutlak menjadi tanggung jawab ibu. Sabda Rasul shallallâh ‘alaihi wa sallam secara jelas menunjukkan bahwa mendidik anak menjadi tanggung jawab kedua belah pihak dan masing-masing mempunyai peranan penting.

“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakain kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah : 223).

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan bertanggung jawab kepada rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya dan di bertanggung jawab terhadap keluarganya. Setiap istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin pada harta terhadap benda majikannya dan dia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Muttafaq’Alaih).

Selain sebagai ibu, peran strategis Khadijah sebagai seorang istri mempunyai kontribusi besar dalam kesuksesan tekad Rasulullah melaksanakan risalah dakwah. Sumber kekuatan yang berada di belakang Rasulullah karena telah menjadi mitra yang sempurna baginya. Dalam sebuah riwayat diceritakan bagaimana Khadijah menentramkan hati Rasulullah.

Ketika Rasulullah mendapat wahyu pertama di gua Hira’, kemudian pulang ke rumah dalam keadaan gemetar. Rasulullah kemudian berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Saat melihat hal tersebut, Khadijah kemudian berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari Muslim).

Sebenarnya, kiprah kaum wanita cukup  luas  meliputi berbagai  bidang. Oleh karena itu, peningkatan kualitas bagi wanita merupakan hal urgen. Tentu saja bagi wanita muslimah, kiprah tersebut harus diselaraskan dengan aturan Islam, dalam segi  akidah, akhlak dan semua masalah yang sudah digariskan atau ditetapkan oleh Islam untuk kaum wanita.

Selain sebagai subjek yang berpotensi membangun bangsa yang beradab, wanita pun berpotensi menghancurkan suatu bangsa, karena wanita adalah sumber segala fitnah jika sudah keluar dari kodratnya.

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah dunia dan takutlah kalian akan fitnah kaum wanita. Karena sesungguhnya fitnah pertama di kalangan Bani Isra’il adalah dalam masalah wanita.” (HR. Muslim).

“Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah (cobaan) yang lebih membahayakan bagi kaum pria daripada fitnah kaum wanita.” (HR. Bukhari Muslim).

Tidak ada jalan lain bagi wanita agar tidak menjadi sumber fitnah, kecuali dia harus menjadi wanita yang taat aturan agama. Akhlak dan perilakunya senantiasa berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Maka, wanita seperti itulah yang berkualitas sebagai arsitek peradaban. Jika akhlak wanita rusak akan berakibat rusaknya moral dan akhlak suatu bangsa, karena eksistensi suatu bangsa pun tergantung pada akhlak dan moral rakyatnya, dan wanita bagian dari rakyat itu. Seperti yang dikemukanan penyair Mesir Ahmad Syauqi Bey “Sesungguhnya keberadaan suatu bangsa tergantung pada akhlak, apabila akhlak mereka telah hancur; maka hancurlah bangsa itu.” (Syelly Alamsyah)

Tags:

Category: MUSLIMAH

About the Author ()

Leave a Reply