banner ad

Penampilan dan Wajah Berseri, Aset Seorang Dai

| 21 Agustus 2012 | 0 Comments
  • Sharebar

Terseyumlah itu sedekah (ilustrasi-inet)

Kita tentu sering bertemu orang di minimarket, restoran, mall, bank, money changer dan tempat lainnya. Sulit dipungkiri bahwa kita lebih merasakan ada kegersangan dalam interaksi. Tak ada keakraban, berseri, sumringah, senyum di wajah mereka. Yang tampak adalah sikap angkuh. Kesan menampakkan diri sebagai sosok “berpunya” dan mapan secara materi. Baik mereka tunjukkan melalui kendaraan, pakaian, aksesori, perhiasan, gadget dan lain-lain, meski ini tak selamanya bukan indicator keangkuhan.

Lantas bagaimana penampilan seorang Muslim di tempat-tempat tersebut? Apa perlu diimbangi model interaksi mereka? Ataukah kita memiliki model lain dalam interaksi dan berpenampilan?

Nahnu duaat qobla kulli syai’” (Kita adalah dai sebelum yang lain). Ungkapan ini seharusnya bukan hanya menjadi semacam kredo di kalangan pegiat dakwah. Tapi juga menjadi pegangan bagi setiap Muslim. Dimana pun dan dalam momen apapun, kita adalah dai sebelum kita menjadi orang biasa, ustad, guru, pebisnis, pejabat, dan seterusnya. Dai adalah penabur kebaikan, pengusung kebajikan, panutan, penebar pesona Islam, sebelum menjadi penebar pesona diri.

Membayangkan tugas seorang dai sebagai penyeru kebenaran mungkin berat. Apalagi membayangkan pencegah kemungkaran dan melawan proyek-proyek kebatilan yang sistematis. Ya sudah pasti, sebagian besar tugas dai memang tidak bisa dipanggul sendirian. Ia membutuhkan sinergi seluruh potensi dai-dai yang ada.

Yang kita bicarakan di sini hanya fokus bagaimana seorang dai memiliki pribadi yang memiliki daya tarik dan pesona kebaikan serta menampilkan keagungan Islam di mata orang lain. Artinya, ketika kita bertemu dan berinteraksi dengan siapapun maka mereka tahu kita sosok cerminan kebaikan Islam itu sendiri. Lebih khusus lagi dalam hal ini bahwa berpenampilan, tata krama berbicara, pasang raut muka di tempat umum, dan sopan santun berperilaku adalah modal utama seorang dai.

Berikut beberapa tata krama (adab) seorang Muslim di hadapan orang lain;

  1. Berpenampilan Sederhana dan Menutup Aurat

Tetap jaga aurat, sopan di tempat umum (ilustrasi-inet)

Sederhana adalah lawan berlebihan, mewah, dan borju. Namun tidak berarti seorang mukmin berpenampilan asal-asalan dan bau. Sebab Rasulullah sendiri senantiasa memperhatikan keberhasilan pakaiannya dan menggunakan wewangian.

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’: 26)

Berpenampilan mewah dan berlebihan adalah ciri orang-orang lalai seperti Qarun.

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya[1139]. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang Telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.

Bukankah seorang dai ingin mendapatkan simpati dari orang lain? Kuncinya pernah diajarkan oleh Rasulullah saw.

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

 

“Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan).

Penampilan kita adalah “dakwah” itu sendiri. Maka menutup aurat, tidak berpakaian ketat, transparan adalah juga bagian dari dakwah itu sendiri.

2. Wajah Berseri dan Tersenyum

Tersenyum dan wajah sumringah kini menjadi barang langkah di kalangan kita. Bahkan tak sedikit mereka yang dipanggil “ustad” dan “guru ngaji” atau bahkan yang mengklaim diri pengusung “dakwah salaf” memiliki penampilan “tidak bersahabat”, bertampang “tegas” tidak pada tempatnya. Entah apa beratnya hanya sekadar tersenyum di hadapan saudara sendiri.

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).

Begitu pula dengan wajah ceria dan berseri akan mudah menarik hati orang lain ketika diajak pada Islam dan kepada kebaikan. Senyum manis adalah di antara modal ketika berdakwah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia” (HR. Al Hakim dalam mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Jarir, ia berkata,

مَا حَجَبَنِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ أَسْلَمْتُ ، وَلاَ رَآنِى إِلاَّ تَبَسَّمَ فِى وَجْهِى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangiku sejak aku memberi salam dan beliau selalu menampakkan senyum padaku” (HR. Bukhari no. 6089 dan Muslim no. 2475).

Wajah berseri dan tersenyum termasuk bagian dari akhlak mulia. Ibnul Mubarok berkata bahwa makna ‘husnul khulq’ (akhlak mulia),

طَلاَقَةُ الوَجه ، وَبَذْلُ المَعروف ، وَكَفُّ الأذَى

“Wajah berseri, berbuat kebaikan (secara umum) dan menghilangkan gangguan”. Dinukil dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah.

Sedangkan orang yang berakhlak mulia disebutkan dalam hadits dari Jabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

Orang yang paling dicintai di antara kalian dan yang paling dekat duduk denganku di hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 2018. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Bersambung…(atb)

Tags:

Category: KOLOM

About the Author ()

Leave a Reply