banner ad

Gugat Cerai, Wanita Harus Berfikir Seribu Kali

| 2 September 2012 | 0 Comments
  • Sharebar

Gugat cerai, harus dikonsultasikan dulu (ilustrasi-inet)

Jakarta (Spirit Islam) – Bahagia sudah tentu menjadi idaman setiap keluarga. Nyatanya cekcok, KDRT, dan perselingkuhan yang berujung kepada perceraian masih menjadi kasus umum di masyarakat yang mayoritas Muslim ini. Data yang pernah dirilis di pengadilan tinggi Jakarta Timur saja, tercatat kenaikan perceraian 70% setelah krisis moneter.

Hal yang sama ditegaskan oleh Ketua Bidang Perempuan DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Byarwati  saat memperingati Hari Keluarga 2012, di Jakarta beberapa saat lalu bahwa pascareformasi, angka perceraian naik hingga 4-10 kali lipat dibandingkan masa sebelumnya. Tahun 2009, tercatat 250 perkara perceraian. Jumlah ini sebanding dengan 10 persen dari pernikahan tahun itu.

Ironisnya, mayoritas atau 70 persen kasus perceraian di Pengadilan Agama adalah gugatan cerai, artinya istri yang meminta cerai. Dibandingkan negara Islam di dunia, tingkat perceraian di Indonesia paling tinggi setiap tahunnya.

Solahudin Pugung, pengacara tinggal di Depok, "Kembalilah kepada agama" (photo; doc pribadi)

Hal ini dibenarkan oleh seorang pengacara, Solahudin Pugung yang tinggal di Depok. Selama menangani kasus perceraian dan perebutan gono gini, kebanyakan adalah karena gugatan cerai dari pihak istri. Kebanyakan kasus gugatan cerai dari pihak istri karena si suami diketahui berselingkuh, imbuhnya. Langkah istri menggugat cerai atau cerai sebagai pilihan akhir, dinilai lawyer yang sudah bertahun-tahun menangai berbagai kasus kisruh rumah tangga ini kurang tepat dan kurang berfikir ke depan.

Tentu bisa dipahami “sangat sakit” ketika seorang istri dikhianati. Baginya mungkin lebih memilih bercerai demi menjaga harga diri. Namun hemat Solahudin, seorang istri jika memang menilai perceraian adalah jalan terakhir, maka dia harus menyiapkan segala hal menghadapi sidang perceraian agar istri tidak banyak dirugikan dalam kasus perceraian. “Paling tidak sebelum mengambil langkah gugat cerai, istri harus mengkonsultasikannya ke lembaga bantuan hukum. Jika ia mengerti tentang hukum, ya disiapkankan surat-surat yang dibutuhkan agar dalam sidang perceraian istri tetap mendapatkan hak harta gono-gini.” Tegas Solahudin menasihati.

Dari pengalamannya, justru tak sedikit istri menjadi hidup terlunta-lunta setelah perceraian padahal sebelumnya ia hidup di atas rata-rata. Sebab ternyata setelah cerai dan dalam persidangan posisi wanita lemah sebab surat-surat masih dipegang oleh suami. Namun tentu kepuasan batin tidak bisa dinilai ketika seorang istri merasa dikhianati, tetap itu hak istri.

Bagaimana lantas mengatasi tinggi kasus perceraian yang kebanyakan dipicu oleh perselingkungan baik oleh pihak suami atau sebagiannya dari pihak istri? Pengacara Solahudin berpesan agar pasangan suami istri secara umum kembali kepada agama (baca; Islam). Sebab itulah yang menjamin kebahagiaan. Jika sudah terjadi perselingkungan, tentu idealnya dalam Islam diproses secara hukum sebagai kasus perzinaan yang jika terbukti harus dirajam. Namun dalam kondisi seperti ini, pintu taubat harus tetap dibuka dan dikonsultasikan kepada ahli agama, pakar hukum, dan ahli agama untuk menyelamatkan bahtera rumah tangganya dan anak-anaknya jika masih memungkinkan.

Selain itu, Solahudin yang ditemui Spirit Islam  di tempat tinggalnya di Depok juga berpesan bahwa godaan dan cobaan paling berat dalam rumah tangga baik oleh suami atau istri adalah materi. Sebab kebanyakan perselingkungan dipicu oleh materi yang cukup yang mendorong suami untuk ‘jajan’. Ini tentu sangat disayangkan, tegas Solahudin. (atb)

Artikel terkait:

Memberdayakan Wanita, Bukan Mengeksploitasi

Wanita Muslimah dan Integritas Moral Bangsa

Wanita, Antara Tonggak Moral dan Sumber Fitnah

 

Tags:

Category: KONSULTASI SYARIAT

About the Author ()

Leave a Reply