banner ad

Agar Sedekah Menjadi Investasi Tak Kenal Rugi

| 8 Januari 2013 | 0 Comments
  • Sharebar

(inet)

Spirit Islam: Sebagian besar masyarakat selalu berhitung logika matematis ketika mengeluarkan hartanya. Jika uang dimiliki Rp. 100 juta dan dikeluarkan 2,5 persennya untuk zakat maka berkurang menjadi 97.500.000. Ini yang kemudian membuatnya berfikir hartanya berkurang. Karena logika berfikir  semacam inilah yang menciptakan mental kikir, pelit, bakhil dan materealistik.

Memang secara riil matematis harta menjadi berkurang, tapi tidak selamanya yang berkurang dari harta adalah nilai minus alias tidak menguntungkan dengan kata lain masuk kategori konsumtif. Sebab sedekah tidak masuk dalam kategori belanja konsumtif. Belanja dari harta itu ada yang bersifat konsumtif, tabungan, investasi, kewajiban (pajak). Jika investasi umum masih ada kemungkinan merugi, tapi sedekah, zakat, infak, dan lain-lain bisa dimasukkan dalam kategori investasi plus plus yang tak mengenal rugi selamanya. Namun bukan berarti tidak bersyarat.

Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa:”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa:” Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui” (QS Al Baqoroh 261)

Semua berlomba-lomba bersedekah dengan penuh harapan ada timbal balik yang jauh lebih banyak dari yang dikeluarkan. Pemahaman dan keyakinan ini tentunya bukanlah hal yang salah, karena salah satu motivasi Al-Quran sendiri menyatakan dengan jelas seperti itu.

Namun pada saat yang sama harus menjalankan serangkaian adab agar lebih ihsan dalam bersedekah.  Ajaran ihsan dalam segala kebaikan –termasuk sedekah- inilah yang ditekankan Rasulullah SAW dalam haditsnya : “Sesungguhnya Allah Ta’ala mewajibkan ihsan atas segala sesuatunya “. (HR Muslim). Ihsan dalam bersedekah bisa kita penuhi dengan menjalankan adab-adab dalam memberikan sedekah, sebagai berikut :

Pertama : Niat yang Ikhlas dan Memahami Hakikat Sedekah
Kunci setiap amal tentu bergantung dengan niatnya. Jangan sampai sedekah menjadi alat mencari popularitas dan simpati dari masyarakat, karena bisa berarti hanya itu yang akan di dapatkan tapi nol dalam catatan akhirat. Allah SWT telah mengingatkan hal ini dalam Al-Quran :

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan,” (QS Hud 15-16)

Sedekah sesungguhnya adalah bentuk rasa syukur kita terhadap rejeki dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Yang dengan rasa syukur itu justru nikmat itu akan terus bertambah. Kita juga harus memahami bahwa sedekah juga akan menghilangkan kesombongan dalam diri kita, merasa bahwa setiap harta yang kita hasilkan adalah hasil jerih payah dan kecerdasan kita pribadi. Sedekah juga menghilangkan sifat-sifat bakhil dalam diri kita, serta menumbuhkan kepedulian dan rasa kasih sayang kepada sesama. Dengan memahami ini semua, perasaan dan niat kita dalam bersedakah akan lebih teruji dan tertata.

Kedua : Menganggap Kecil Sedekah yang kita Keluarkan.
Sebagian orang merasa telah banyak mengeluarkan harta dan bersedekah untuk orang lain. Bahkan terkadang ini membuatnya bersikap kurang baik pada mereka yang meminta sedekah kepadanya. Yang paling memprihatinkan dalam hal ini adalah ketika seseorang senantiasa menyebutkan apa-apa yang telah ia sedekahkan, yang mau tidak mau menunjukkan sifat riya yang bisa menghapus amal tersebut. Allah SWT telah mengingatkan :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS Al Baqoroh : 264)

Semestinya yang perlu dilakukan adalah menganggap enteng bahkan melupakan apa yang telah kita sedekahkan. Jika perlu, rasanya wajar kita berterima kasih kepada mereka yang mau menerima sedekah kita. Karena itu pertanda mereka meyakini sepenuhnya kehalalan dan kesucian harta kita.

Ketiga: Tidak Ragu-ragu dan Menunda-nunda
Allah SWT memotivasi kita untuk bersegera dan berlomba dalam amal kebaikan. Tanpa ragu, malu apalagi menunda-nunda. Kita dingatkan melalui firman-Nya dalam Al-Quran :

“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Al Baqoroh 133)

SAW telah memberikan garansi tentang keutuhan harta kita paska sedekah, beliau bersabda dalam haditsnya: “Tidak akan berkurang harta seorang hamba karena disedekahkan” (HR. Tirmidzi)

Keempat :  Menutup-nutupi dan Merahasiakan sedekah kita.
Sedekah memang bisa dilakukan dengan terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Namun hati manusia yang lemah akan lebih mudah tergoda untuk riya saat sedekah dilakukan terang-terangan, apalagi jika dengan publikasi besar-besaran. Potensi hati yang lemah dan cenderung riya ini telah diingatkan dalam Al-Quran, yang merekomendasikan sedekah dengan tertutup jika memungkinkan, karena akan lebih menjaga hati dari kesombongan dan rasa riya. Allah SWT berfirman dengan gamblang :

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Selain ayat di atas, dalam riwayat Muslim juga kita mendengar bahwa Rasulullah SAW menyebutkan tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dan perlindungan dari Allah SWT di hari kiamat nanti. Salah satu dari tujuh golongan  tersebut adalah: seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, bahkan hingga digambarkan tangan kanannya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kirinya.

Gambaran kemuliaan di atas cukuplah memberikan motivasi bagi kita untuk berusaha menjaga sedekah kita agar tidak terlalu menonjol dan diketahui banyak orang. Tentu saja ini bukan berarti larangan bersedekah dengan cara terang-terangan, karena terkadang hal tersebut justru bisa memotivasi yang lainnya untuk berbondong-bondong mengikuti kebaikan tersebut. Adapun hikmah yang terkandung dalam sedekah yang tersembunyi setidaknya ada dua, pertama ; akan lebih menjaga hati kita dari penyakit riya, dan yang kedua ; menjaga kemuliaan dan harga diri mereka yang menerima sedekah kita.

Kelima : Bersedekah dengan memberikan yang Halal dan Terbaik
Hal yang pertama kita pastikan dalam bersedekah adalah menjaga kehalalan sumber harta kita. Sedekah tidak sekali-kali mampu membersihkan harta yang sejak awal kotor atau haram, dan lebih jauh lagi hal tersebut justru akan menjauhkan kita dari keridhoan ilahi. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidak akan diterima shalat tanpa thaharah (bersuci), dan tidak akan diterima pula sedekah dari harta curian (ghulul).” (HR Muslim). Maka pastikan seluruh pendapatan dan harta yang kita terima adalah yang halal dan berkah, dari situlah kita akan bersedekah.

Setelah mencari dari sumber yang halal, adab selanjutnya yang senantiasa harus kita perhatikan adalah, memilih yang terbaik dari apa yang akan kita sedekahkan. Jika itu makanan maka berarti bukan jenis makanan yang tidak kita suka, atau pakaian yang barangkali sudah kekecilan bagi kita. Namun yang terjadi semestinya adalah sebaliknya, kita harus memberikan yang terbaik bahkan jika memungkinkan termasuk hal yang kita sukai. Dua ayat berikut ini semestinya memotivasi kita untuk mengoptimalkan pilihan harta sedekah kita :

“Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (QS. Al-Baqarah: 267)

“ kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imron 92)

Meskipun kita dituntut untuk bersedekah dengan yang terbaik yang kita mampu, bukan berarti bahwa sedekah kita harus selalu baku dalam jumlah yang besar atau kualitas yang hebat misalnya. Namun perlu rasanya meyakinkan diri untuk mencoba senantiasa bersedekah, dan tidak harus berjumlah besar karena tidak setiap waktu kita bisa mewujudkannya. Rasulullah SAW bersabda : “Bersedekahlah walaupun dengan sebutir kurma, karena hal itu dapat menutup dari kelaparan dan dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api” (HR. Ibnul Mubarok dari hadits Ikrimah)

Keenam : Memilih orang yang akan kita beri sedekah
Terkadang kita ingin bersedekah dalam jumlah yang besar dan signifikan, maka pada saat itulah perlu rasanya kita memilih dan memprioritaskan siapa-siapa saja yang paling berhak dan paling layak menerima sedekah kita. Adapun sedekah kecil-kecilan seperti dalam perjalanan bukan termasuk yang kita bahas pada kali ini, karena tidak perlu terlalu kita repot-repot memilih dan menyeleksinya.

Ada beberapa hal yang dianjurkan syariah kita dalam memilih mereka yang akan menerima sedekah kita, antara lainnya sebagai berikut :

1.    Termasuk yang sholeh dan bertakwa,  bukan ahli maksiat. Rasulullah SAW telah memberi isyarat dengan melarang mengundang orang fasiq dalam jamuan makan yang kita adakan, beliau bersabda : “ Janganlah berteman kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan makan makananmu (yang engkau sediakan) kecuali orang bertakwa” (HR Abu Daud). Memberikan sedekah kepada orang yang ahli maksiat, hanya akan menambah amunisi baru baginya dalam bermaksiat. Tentu hal yang paling kita takutkan adalah jika harta kita turut membantu memperluas kemaksiatannya.

2.    Hendaknya mencari yang berilmu : dalam arti mampu mengelola harta yang ada, bukan pemboros yang hanya menghabiskan uang dalam seketika, tanpa jejak sama sekali dalam kehidupannya. Allah SWT berfirman : “ dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang bodoh (belum sempurna akalnya), harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.” (QS An-Nisa 6).  Tentu kita semua menginginkan bahwa harta sedekah kita bisa berkah dan berbuah pada waktu-waktu berikutnya, bisa digunakan untuk modal usaha atau hal-hal produktif lainnya.

3.    Mempunyai Harga Diri dan Tahu Hakikat Rejeki : Artinya tidak meminta-minta secara berlebihan, apalagi jika tidak dalam kondisi yang membutuhkan. Disekitar kita budaya meminta-meminta sudah terlalu mengakar, padahal hal tersebut adalah sesuatu yang dimakruhkan dalam Islam. Begitu pula kita memilih mereka yang tahu akan hakikat rejeki, dalam arti tidak menganggap kita sebagai ‘dewa penolong’, tapi menyadari bahwa pemberian kita adalah rejeki dari Allah SWT kepadanya yang dititipkan kepada kita. Inilah mungkin yang diisyarat dalam firman Allah SWT : “ (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.” (QS Al Baqoroh 273)

4.    Diutamakan kerabat dekat terlebih dahulu : Secara umum sedekah bisa kita berikan kepada siapa saja, dengan prioritas sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Quran : “ Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” (QS Al Baqoroh 215). Secara khusus memberikan sedekah kepada kaum kerabat mempunyai keutamaan ganda, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda : ”Sedekah kepada orang miskin mendapatkan satu pahala, sedangkan sedekah kepada kerabat mendapatkan dua pahala; pahala bersedekah dan pahala bersilaturahim.” (HR At-Tirmidzi). Orang yang terdekat bagi kita lainnya adalah para tetangga kita. Sedekah kita semestinya juga diprioritaskan bagi para tetangga, jangan sampai kita termasuk dalam gambaran sabda Rasulullah SAW : Bukanlah orang yang beriman bagi orang yang kenyang perutnya, sedangkan tetangganya kelaparan hingga tampak tulang rusuknya.( HR. Bukhari dari Ibnu Abbas ra)
Akhirnya, marilah kita berusaha untuk menghiasi hari-hari kita sedekah yang optimal, yang memenuhi setiap adab dan anjuran syariat, agar sedekah kita lebih bernilai barokah,  agar kesempurnaan pahala kita pun utuh tercatat di akhirat nanti. Selamat bersedekah dan semoga rejeki Anda terus bertambah. (Diolah dari berbagai sumber, terutama; Indonesiaoptimis.com)

Tags:

Category: SPIRIT

About the Author ()

Leave a Reply