banner ad

Pelajaran Moral dari Kasus Bupati Aceng

| 3 Februari 2013 | 0 Comments
  • Sharebar
Aceng HM Fikri.

Aceng HM Fikri.

Bandung (spiritislam.net) – Barangkali tidak ada yang terhenyak ketika DPRD Kabupaten Garut secara aklamasi memakzulkan Bupati Aceng HM Fikri. Berbeda jauh dengan suasana ketika pertama kali tersiar kabar tentang kawin kilat sang bupati dengan seorang gadis yang belum genap 18 tahun.

Ya, pasti berbeda. Publik terhenyak ketika tahu ada pejabat publik yang menceraikan istri yang dinikahinya secara siri hanya empat hari karena sang istri tidak perawan lagi. Alasan Aceng, pernikahan itu seperti jual beli. Kalau barang yang dibelinya tak sesuai spek, ya barang harus dikembalikan. Dan, katanya lagi, itu sah menurut agama.

Perbuatan dan pembelaan Aceng dinilai menginjak-injak rasa keadilan dan kehormatan perempuan. Sekian juta orang, yang selama ini memimpikan sosok pemimpin yang menjunjung nilai-nilai moral dan etika, pun murka. Di Garut, suasananya bahkan lebih panas daripada ketika warga menuntut pemakzulan Bupati Agus Supriadi karena kasus korupsi pada 2007.

Tak lama berselang, kasus Aceng masuk ke ranah politik. Tanpa dukungan kendaraan politik, Aceng — yang menjadi bupati dari jalur independen kendati kemudian dia masuk Partai Golkar dan menjadi Wakil Ketua PDD Golkar Jawa Barat – hanyalah selembar daun kering. Dia tak punya kekuatan. Di luar syahwat. DPRD Garut pun lantas mengajukan permohonan pemakzulannya ke Mahkamah Agung, yang kemudian dengan tanggapnya menjawab oke.

MA memvonis kawin siri kilat Aceng bertentangan dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 dan PP Nomor 6 Tahun 2005 tentang Tugas, Wewenang, Kewajiban, dan Larangan Kepala Daerah. Di luar vonis MA, Aceng juga bisa dijerat UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak — karena menikahi gadis di bawah umur — dan UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia — karena menjanjikan imbalan tertentu untuk mau dinikahi.

Berbekal vonis MA tersebut, DPRD Garut kemarin bersidang dan memecat Aceng Fikri, yang masa jabatannya sebagai bupati tinggal setahun lagi. Dengan demikian, berakhir sudah karier politik sosok from zero to hero (and back to minus zero) ini, walaupun secara administratif pemecatannya baru berlaku setelah disetujui Presiden.

Maka, terhitung sejak kemarin, Aceng menjadi pejabat publik pertama dalam sejarah republik tercinta ini yang dipecat gara-gara nikah siri. Disamping itu, tidak tertutup kemungkinan dia juga dijerat hukuman pidana terkait pelanggaran UU Perlindungan Anak dan UU Perdagangan Manusia.

Keluarga, simpatisan,dan pengacara Aceng boleh-boleh saja merasa miris dengan hukuman tersebut. Karena tidak sedikit pejabat publik yang juga menikah siri. Yang jadi masalah, perilaku Aceng telah menimbulkan ketersinggungan publik. Dan, dalam demokrasi, suara publik mewakili Tuhan.

Pelajaran penting yang patut dipetik oleh setiap pejabat publik dari kasus Aceng: Patuhi hukum, kekang birahi, dan dengarkan nurani publik. Insya Allah Anda selamat. (Inilah Koran/Seli)

Tags:

Category: NASIONAL

About the Author ()

Leave a Reply